Yang ingin menulis-menulislah, yang ingin bermusik-bermusiklah, yang ingin menyanyi-menyanyilah, yang ingin melukis-melukislah, yang ingin menari-menarilah, yang ingin apa saja kerjakanlah! Sebagaimana Robi'ah, Rumi, Walibah, hingga Dzunnun al-Mishri, Tak ada yang tabu, tak ada yang salah untuk menuju sudut Yang Satu, Melalui jalan manapun, Asal kau tempuh dengan ruh; bahwa yang tercatat adalah ilmu-Nya, yang berirama adalah instrumen-Nya, yang bersuara adalah anugrah-Nya, yang terlukis adalah keindahan-Nya, yang bergerak adalah kuasa-Nya, Maka jika kau ingin apa, kerjakanlah, asal kesemuanya bermuara lillahi ta'ala.

Tentang Maksiat



Ini salah...
sangat salah.
Titik ujungnya sudah terlihat sangat buruk
Ini memang jalan yang salah
Tak sesuai koridor
Dan Menyalahi keharusan
Semua orang jua tahu,
Ini salah...

Sangat salah.
READMORE
 

3 Jari



Rasa sakit kadang ada bukan untuk memberi penderitaan pada si pesakitan, tapi ada yang lebih berharga dari sekedar penderitaan, namun juga pelajaran.

Dulu, mungkin sekitar 10 tahun yang lalu. Di sebuah pondok pesantren di daerah terpencil, di balik Gunung Tampomas. Seorang remaja lulusan SMP memulai pendidikannya untuk belajar agama lebih mendalam. Di tahun pertama, tak seperti teman-temannya yang lain, ia tidak bersekolah karena alasan ekonomi. Ia hanya berstatus sebagai santri takhasus.

Ia begitu pendiam, hingga rutinitas kesehariannya pun tak lepas hanya di empat tempat, di kobongnya (lantai atas), mesjid pesantren ketika menghafal dan belajar, kolah atau kamar mandi tempat ia bersuci dan rumah seorang ustadzah tempat ia makan.

Remaja ini cukup berseka dalam kesehariannya, di kobongnya, ia terbiasa membereskan kamar sebesar ruangan kelas yang dihuni oleh lebih dari 20 orang, yang setiap hari pasti berantakan. Mandi pun dalam sehari bisa sampai 4 kali, yaitu sebelum shubuh, setelah mengaji pagi (pukul 7), sebelum dzuhur dan sebelum maghrib.

Namun seberseka apapun, tetap saja remaja ini terkena penyakit yang sering diderita oleh para santri, yakni penyakit budug (gatal-gatal) di beberapa bagian tubuhnya. Hanya saja karena apiknya pakaian, selama penyakit gatal-gatal itu menjamah tubuhnya, teman-temannya tak ada yang tahu.
Tak sebentar penyakit ini bersarang, mungkin terhitung sekitar dua bulan remaja ini mengalami gatal-gatal, salah satunya pada bagian jari manis dan jari kelingking pada tangan kanannya. Dan otomatis, ia harus berhati-hati ketika melakukan segala hal serta menyentuh apapun disekitarnya, termasuk ketika makan.

Dan secara tidak sadar Allah sedang mengajarinya sesuatu, ia terbiasa makan dengan 3 jari, bahkan ketika jari kelingking dan jari manisnya telah sembuh, ia tetap makan dengan 3 jarinya. Padahal sebelumnya ia hanya sebatas tahu teori hadits tentang anjuran makan dengan menggunakan tiga jari, dan saat itu Allah menghendakinya untuk mengikuti jejak Nabi-Nya. Hingga orang-orang sekelilingnya seringkali terenyuh melihat caranya makan.

Begitulah, hikmah kehidupan seringkali tak terduga mengarah kemana. Sebuah jawaban muncul karena hadirnya pertanyaan.
READMORE
 

Bayang-Bayang Rembulan



Ini sebuah kisah kecil..
Tentang seorang muda yang diam di tempatnya.
Sebenarnya ia hampir tak muda lagi.
Begitu nyaman diberi kasih sayang yang berlebihan.
Tapi tidak begitu dengan hatinya.
Yang ia inginkan saat ini hanyalah terus berjalan.
Mendobrak pintu rumah yang begitu membelenggu.
Kemudian berlari.
Bermaksud mengganti langkah-langkah keterlambatannya.

Dan si pemuda ini masih diam...
Tak berjalan, apalagi berlari.
Hatinya tak tega meninggalkan sang bulan dalam rumah.
Yang seorang diri namun berbayang sebelas,
Aku salah satunya.
Hanya saja, tak hanya bayangannya,
Tapi rupa aslinya pun ada di dalam rumah.

Bingung melanda.
Ia tahu, bahwa kesuksesan diri didapat dari mengkristalnya keringat.
Akhirnya ia berlari di tempat.
Berharap akan ada keringat yang keluar.
Meski tak sehebat keringat orang-orang di luar pintu.
Namun tetap ia jenuh.
Tak melihat dunia luar pintu.

Pernah ia berhasil membuka kunci pintu,
Hendak mulai berlari pikirnya.
Namun ketika ia hendak keluar,
Sayup-sayup ia mendengar bisik-bisik dari sepuluh bayangan lainnya.
Biar ku bayar orang dari luar pintu untuk menjaga sang bulan, begitu ujar salah satu bayangan..
Namun bisik-bisik yang tak sengaja ia dengar alih-alih membuatnya memulai sprint panjangnya.
Ia terpukul oleh kata-kata itu.
Mengapa harus orang dari luar pintu yang menjaga sang bulan?
Mereka bukanlah bayang-bayang sang bulan.
Memalukan sekali.
Kemanakah bayangan yang sebelas itu.

Akhirnya ia diam.
Tak berlari, apalgi melakukan perlarian.
Ia pelan-pelan menggelondongkan bola salju tekadnya.
Berpuasa dari segala nafsu keinginan.
Berharap menjadi mutiara indah yang terkukung dalam kerang.
Agar jika suatu saat itu datang.
Ia bisa membuka pintu itu dengan elegan, tanpa paksaan.
Dan ketika ia keluar rumah.
Sebuah jet sengaja turun dari langit,
Terpukau oleh indahnya mutiara.
kemudian mengajak mutiara itu ikut serta.
Dan bermanuver indah menuju tujuan dengan begitu cepatnya.
Meninggalkan mereka yang berlari,

dan mereka yang berkendara.
READMORE
 

Jeruk Seharga Dua Ribu Lima Ratus


Sekitar pukul  2 siang tadi, saat saya pulang dari kediaman Kakak ke-3 saya di daerah dekat pasar dan terminal, sambil tetap sarungan, sengaja saya mampir ke seorang penjaja buah jeruk mandarin, yang memang kebetulan ibu saya minta dibawakan buah tersebut.
“A, Jerukna sabarahaan?” tanyaku pada sang penjual yang secara umur masih terlihat muda.
“Dua puluh rebu sakilo, Jang.” Jawabnya.
aku bertanya lagi, “Pami hijian sabaraha a?”
“Dua rebu lima ratus, Jang”
“Wah, manawi teh sapuluh rebu kenging lima a” tawarku sambil tertawa kecil.
“Duh, teu acan kenging, Jang”. Tukasnya.
Aku yang memang punya pengalaman kurang mengenakan dengan tawar menawar dengan seorang penjual dulu, akhirnya tak memaksa lagi.
“Nya tos wios a, sapuluh rebueun we”. Sambil ku berikan uang sepuluh ribu.
Penjual tersebut menerima uang yang aku sodorkan dan mulai memasukan buah jeruk mandarin ke dalam kresek putih.
“Nu sae nya a.” Ujarku.
Ia tampak berfikir beberapa saat, padahal hanya untuk memilih 4 buah jeruk. Aku pun sibuk memandang sekeliling, barangkali ada yang mau di beli lagi.
“Ieu Jang.”
Aku menoleh hendak menerima kresek putih yang ia sodorkan.
Namun kemudian aku mengernyitkan dahi, “Atuh lima geuningan a.”
“Muhun, wios jang, candak wae.”
“Duh, haturnuhun atuh nya... sing berkah we rizqina atuh nya a..”
Sambil melangkah menuju motor, bahkan ketika perjalanan pulang, tak henti-hentinya saya tersenyum, serta mendoakan kebaikan bagi penjual tadi.

Kebanyakan dari kita memang memiliki kecenderungan merasa bahagia ketika diberi ketimbang memberi. Jika kita amati, memang secara lahir, ketika kita diberi sesuatu oleh seseorang maka apa yang kita miliki bertambah, dan ketika kita memberi sesuatu kepada orang lain, maka berkuranglah apa yang kita miliki. Namun secara bathin, ada perasaan lain yang membuat kita bahagia ketika kita memberi.


Termasuk diri saya, yang siang itu diberi satu buah jeruk seharga dua ribu lima ratus.  Doa-doa memohon kebaikan terus mengalir bagi si pemberi.
READMORE
 

Resep Herbal Untuk Penderita Diabetes





Posting ini, sebenarnya untuk catatan pribadi saja (diluar alasan agar tidak disebut “hiatsu”, hehe). sebuah resep dari seorang tabib untuk ibu saya yang kebetulan menderita diabetes. namun jika ternyata bermanfaat bagi anda, Alhamdulillah... mangga dicoba.

Berikut daftar bahan herbal yang diperlukan:
Daun Salam
10 Lembar
Sereh
3 Batang
Cengkeh
7 Butir
Laos
1 Ibu Jari
Jahe
1 Ibu Jari
Daun Sukun
2 Lembar

Semua bahan tersebut direbus dengan 5 gelas air, untuk kemudian menjadi 3 gelas sajian. (Ramuan diminum 1 gelas perhari atau dengan kata lain seluruh ramuan di atas untuk 3 hari sajian).


READMORE
 

Sajak Sang Putri Bintang

Layaknya bintang-bintang di langit malam.
Setiap bintang memiliki keistimewaan yang berbeda-beda,
Tidak semua bintang memiliki warna yang sama.
Namun,….semuanya memiliki kilau yang indah.
Begitu pula manusia,…Tak ada yang sama dalam dunia ini, Kehidupan yang dijalani setiap orang selalu berbeda.
Namun, bukan dan tidak akan pernah menjadi alasan bagi seseorang untuk redup, Karena Tuhan tak pernah salah akan makhluk ciptaan-NYA
Maka…… Bersinarlah!!!
Asahlah batu permata dalam jiwamu,
Tunjukkan kilaunya pada duniaBersinarlah seperti bintang
Karena bintang selalu menyinari di kegelapan malam
Karena setiap jiwa manusia adalah bintang


(kepadamu, yang kini hilang, tak terjaga. Aku minta maaf)
READMORE
 

Sholawat Obat



اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
طِبِّ اْلقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا
وَعَافِيَةِ اْلاَبْدَانِ وَشِفَائِهَا
وَنُوْرِاْلاَبْصَارِ وَضِيَائِهَا
وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ .


READMORE
 

Meretas Jalan Berliku


Peristiwa subuh getarkan hati ini
Saat telinga mendengar kumandang adzan
Merdu membahana memecah semesta
Keheningan tersingkap oleh alunan lafadznya
Bersujud menyungkur keharibaan-Nya
Tanda bersyukur atas segala ni’mat-Nya
Lafadzkan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil pada-Nya
Untuk senantiasa mengingat-Nya

Ku sambut mentari yang menyapa
Dengan senyumku yang terbuka
Untuk menyingkap segala yang hampa
Agar  tertatap hari yang bermakna
Hari dimana aku melakukan segala
Menjelajah waktu yang berputar seperti roda

Meski kini aku hidup dalam bayang kenangan
Kenangan yang terkubur dalam angan
Namun aku tetap mencoba tuk bertahan
Bertahan dari segala ketidakpastian
Dan masa lalu yang terus beriringan

Jejak-jejak sejarah menjadi kadang dan terkadang
Ya kadang senang terkadang bimbang
Kadang Indah terasa, saat semuanya terbayang
Terbalut dalam angan yang melayang
Dan itu begitu sulit untuk terbuang
Semuanya tetap terikat bagai layang-layang

Kadang itu terasa sangat pahit
Langkahku seakan semakin sulit
Sekelilingku terasa terus menghimpit
Sungguh aku tak bisa untuk berkelit
Semua sudut pandangan seakan menyempit
Oh betapa ini terasa menggepit

Meski semua harapan terasa pupus
Relung hati ini tetap tak kuasa menghapus
Bayang itu menhias bagai bintang yang bergugus
Dalam langit malam yang menghapus
Waktu pun terus menggerus
Membuat sisa umurku menjadi hangus
Namun aku tetap berdiri tanpa berputus

Apakah semuanya masih mungkin
Aku mulai merasa tidak yakin
Karena semuanya kini terasa hampa dan dingin
Haruskah aku pergi dari ingin
Atau menganggap semuanya seperti angin
Atau tetap menyimpannya dalam batin


Ah siapa juga aku ini
Mungkin aku hanya sebuah duri
Yang terus menusuk dan melukai
Sungguh aku tak ingin menyakiti
Karena paksaan tak bisa menekan hati
Karena hati adalah sesuatu yang sakti
Dan itu adalah sebuah bukti.

Ya Allah…
Aku hanyalah hambamu yang payah
Yang selalu mengeluh dan mendesah
Meski asa dan daya sudah ku kerah
Sempat juga aku berpikir untuk menyerah
Cukuplah aku berkeluh kesah
Kini aku hanyalah bisa berpasrah
Dalam harap dan doaku menengadah.

      “ Catatan seorang Ibnu”  
   


READMORE
 

Meredam Badai Hati.


Hari yang tidak begitu panas, udara yang sejuk menyentuh menyapa setiap jiwa yang ia lewati. Matahari yang membiarkan dirinya tidak menyengat insan-insan dunia membuat suasana bumi terasa lebih nyaman bagi sebagian manusia. Dalam sebuah ruang aku termenung dengan diri yang biasa namun dalam atmosfer pemikiran yang tak biasa. Sungguh dalam sadar ku menyadar akan segala yang berlalu, yang berjalan dan yang akan ku tempuh semua adalah sebuah misteri yang entah dimana aku bisa menemukan rumus-rumus pembandingnya. Sampai apa yang ada dalam relung hati ini pun seakan tidak bisa aku bahasakan dengan untaian kata-kata untuk memebentuk bait-bait kalimat. Meski demikian akan ku coba dengan segenap rasa dan karsa yang ada dalam diri dan jiwa ini untuk mengejawantahkannya.

Berawal dari yang serba biasa. Bumi, air, udara pepohonan dan semua yang hadir di sekitarku adalah biasa adanya. Detik, menit, jam, hari terus hingga tahun berganti tahun kulewati dengan aktivitas dan suasana hati yang tidak di luar kebiasaan. Namun semua itu terasa berbeda, ya sebuah perbedaan yang justru muncul dari keterbiasaan yang selalu menemaniku. Sebuah “usikan” yang kembali membuat hari-hariku menjadi tak biasa. Ya luar biasa, benar-benar di luar kebiasaan. Segenap ruang waktu yang telah, sedang dan yang akan kulewati penuh dengan harap, angan dan mimpi akan “cita dan cinta” serta resah yang sulit untuk di gambarkan. Entah bagaimana itu bermula, mungkin dari sebuah titik yang agak terasa rumit untuk aku jelaskan. Bulan terus beranjak silih berganti mengiring suasana hati yang seakan terus bertaburan tanaman bunga, yang entah bagaimana mereka tumbuh subur dan semakin subur layaknya jamur di musim penghujan.

Pertemuan demi pertemuan, tatapan demi tatapan semakin memebuat mata ini, mata hati ini melek akan dirinya. Ya dirinya yang kutemukan dalam keterbiasaanku bersama diri dan alam sekitarku. Kelembutannya, kebijaksanaannya, kecerdasannya dan terlebih keasabarannya begitu mengetuk,, tok, tok, tok.. pada daun pintu dalam hatiku. Dan mungkin itu semua yang mampu menyirami tanaman-tanaman bungaku. Aku sering tertegun akan keanggunannya. Senyum dengan lesung pipinya seakan menghadirkan udara pegunungan yang begitu sejuk menembus ari dalam kulit. Tawanya mampu mengusir sepi dalam senyap diri. Candanya yang terkadang manja membuatku juga terkadang ingin mencubit pipi lesungnya yang manis. Ah ngayal......

Pucuk di dahan ular pun datang, terjatuhlah aku karena kaget. ^_^ . bukan itu maksudku, “pucuk di cinta ulam pun tiba,, nah itu dia. Harapku tak bertepuk sebelah kaki ups.. tangan. Dalam rentang waktu yang agak sedikit panjang ternyata rasaku berbalas, ^_^  . Jujur kukatakan, awalnya hati ini sempat ragu akan dirinya. Apa iya,, seorang “dia” mau untuk memebuka pintu hati dan mempersilahkan diriku untuk masuk dan menghiasinya dengan warna-warni tinta hidupku, atau setidaknya hanya mampir dan memberi sebuah jejak dari tapak-tapak skenario perjalananku. Dan pada hari itu di mana tawaranku terkabulkan. Ya tawaran akan sebuah nilai sejarah yang dimiliki kota wali “Cirebon”, menjadi hari yang bersejarah. Jum’at. Di mana aku menemukan sedikit kesimpulan akan tanya dan anganku. (logika) Seorang “dia” terkalahkan oleh perasaannya, antara yakin dan ragu rasioku berani menyimpulkan “jika logika seorang perempuan sudah tergeser oleh perasaannya, maka di hatinya pastilah ada a crazy little thing called love. Dan untuk semua itu, diriku memohonkan berjuta maaf. Maafkan pemuda yang kurang berbudi ini, yang telah membuat air yang sebening embun jatuh dari sudut mata indahnya berlinang membasahi pipi lesungnya. Sungguh saat itu aku bingung dan tak tega mendengar isaknya yang tak kunjung henti, membawaku dalam ketidakmengertian. Apakah keterusterangan perasaanku padanya yang membuat ia berlinang air mata, namun ternyata bukan. Ia hanya hanya menyesali kekhilafannya, itu saja. Menit bergulir akhirnya isaknya terhenti, lega hatiku. Kembali tersenyum – tertawa.

Tangis yang berakhir senyum. Terjawab,..! meski tanpa ada “ya” yang terlontar dari kedua bibirnya. Meski hanya ada diam yang ia sambung dengan sebuah kata “Nyaman”. Benar-benar membuat panas setahun hujan sehari. Proses yang terasa sangat melelahkan. 00.00-03.00 WIB, itulah rentang waktu dalam ke-basa-basi-an rangkaian kata dalam penemuan kata “Nyaman”. Sungguh dramatis. Antara sadar dan tidak, antara terjaga dan mimpi. Semuanya tidak ada yang tidak mungkin. Karena Cinta adalah Anugerah yang bisa diminta namun tak bisa ditolak.

Indah... setelah hujan sehari, bahtera pun siap untuk berlayar. Namun entah kenapa (tanyaku dan dia) belum satu hari pun layar berkembang badai pun datang menghadang. Angin kekhawatiran yang disusul mendung dan kabut ketakutan menjelma menjadi sebuah badai dalam pelayaran seorang nakhoda yang masih belia dengan membawa seorang putri dari negeri impian. Haruskah sang nakhoda membiarkan bahteranya karam dan membiarkan sang putri terombang-ambing terbawa badai, sungguh malang nasibmu putri.  Maafkan aku putri, Aku benar-benar nakhoda yang tak piawai.

Badai..? apakah benar itu sebuah badai, putri?. Apakah tak pernah terlintas dalam benakmu, mungkin di sebrang sana setelah badai berlalu kau akan menemukan pulau yang indah dengan berbagai pohon dan pantainya yang begitu memukau, batu karang yang tampak karena kejernihan airnya dan kau akan menemukan kerang yang di dalamnya terdapat mutiara yang berkilau..?. atau Apa kau akan tetap yakin pada sang nakhoda dan bahteranya yang terus terapung terombang-ambing di atas deburan ombak sampai ia menemukan sebuah daratan untuk ia bisa menepikan diri dan bahteranya. Siapkah dirimu untuk mengarungi ganasnya laut kehidupan, bersama dalam pahit, perih, bahkan sengsara demi mencapai daratan impian???.

Harap dan angan ku masih tetap berdiri meski tak sekokoh sedia kala, sebelum semua terjadi begitu singkat. Sungguh terasa lebih singkat melebihi kecepatan cahaya. Semua ini benar-benar tak bisa terelakkan, sungguh hanya kekuatan doa yang masih tersisa.

Ya Allah…
Aku hanyalah hambamu yang payah
Yang selalu mengeluh dan mendesah
Meski asa dan daya sudah ku kerah
Sempat juga aku berpikir untuk menyerah
Cukuplah aku berkeluh kesah
Kini aku hanyalah bisa berpasrah                           
Dalam harap dan doaku menengadah.

(Sebuah Catatan Seorang Ibnu)





READMORE
 

Menggugat Tetek Bengek



Kepribadian seseorang tercermin dari bahasanya. Bahasa juga menunjukan budaya suatu bangsa. Kesimpulan kasarnya tinggi-rendahnya budaya suatu bangsa tergambar dari bahasanya. Begitu juga luhur-tidaknya kepribadian seseorang tercermin dari bahasanya.

Betulkah kesimpulan ini? Secara lahiriah, ya memang betul. Tapi secara batiniah belum tentu seperti itu. Buktinya para koruptor, para penipu banyak yang berpenampilan terhormat, berbahasa santun tapi toh kemudian ujung-ujungnya merugikan, menusuk dari belakang yang rasanya lebih menyakitkan daripada menusuk mata terbelalak. Atau sebaliknya ada orang yang berpenampilan sangar, berbahasa kasar tapi berhati sebening embun, selembut beludru, sehalus sutra, secerah surya, semulia emas.

Memang kita manusia sebagai makhluk lahir bathin sangat sulit menilai bathin dari bahasa, menilai hati dari rupa. Tapi toh dalam kaidah ushul fiqih juga disebutkan “fahkum bidzdzowahir wala tahkum bissarooir” putuskan kesimpulan dari lahiriyahnya dan jangan sebaliknya diputuskan dari bathiniyahnya. Hakim di pengadilan apapun pasti seperti itu memutuskan perkara berdasar alat bukti yang ada dan jelas.

Kermbali kepada masalah kepribadian dan budaya yang tercermin dari bahasa seseorang atau bahasa suatu bangsa. Seperti sering digaungkan dimana-mana bahwa bangsa kita – bangsa Indonesia – adalah bangsa yang terkenal dengan keramah-tamahannya, berbudaya tinggi yang tentunya berbahasa santun. Tak hanya itu bahkan sejarah mencatat para pendiri bangsa kita ketika berbicara dibanyak kesempatan di sidang PBB sangat mencengangkan, membuat terkagum-kagum banyak orang. Kenapa, karena kemampuan berbahasa Inggrisnya yang sangat pilihan, lebih halus daripada para bangsawan Inggris sekalipun. Bahasa adalah kendaraan untuk menyampaikan maksud tapi juga sekaligus mencerminkan budaya bangsa dan kepribadian seseorang, buktinya bangsa Indonesia yang usianya sangat belia sangat diperhitungkan, berkat perjuangan dan orasi orator sekelas Presiden Sukarno. Siapapun di negri ini dengan bangga berkata “Hidup Bung Karno”, “Sukarno, babe gue”,  “Sukarno.. dilawan..”.

Berbicara tentang bahasa, sebuah pertanyaan, siapakah pencipta kata dalam suatu bahasa? Jawabannya sangat kompleks yang intinya pencipta kata suatu bahasa adalah penggunanya itu sendiri. Sebuah kosa kata terucap dari mulut seseorang dan dimaklumi maksudnya, terus menyebar liar dari mulut ke mulut dimengerti artinya dan disetujui penggunaannya oleh banyak orang bahkan setelah berputarnya waktu. Maka jadilah kosa kata itu kekayaan sebuah bahasa. Dalam posisi seperti ini jelas terbayang oleh kita bahwa orang yang perkataannya banyak didengar oleh banyak orang seperti guru, para pejabat, artis, para mubaligh sangat bisa berperan dalam melahirkan sebuah kosa kata baru. Terlepas apakah kosa kata itu menggelikan ataupun jorok, tidak senonoh.

Sebuah pertanyaan lanjutan, santunnya suatu kalimat (perkataan) karena bahasanya ataukah karena pilihan katanya? Jawabannya sangat mudah tentu saja karena pilihan katanya. Jelasnya disini seorang pembicara santun pasti sangat mengerti diksi, pilihan kata. Sebab kesantunan juga menunjukan keterpelajaran seseorang, dan dalam masyarakat sosial kesantunan menunjukan keterhormatan seseorang. Lalu bagaimana fenomena kata tetek-bengek  yang banyak diucapkan bahkan oleh  publik pigur termasuk oleh guru dan orang-orang terhormat dan terpelajar lainnya. “Seharusnya saya sebagai direktur tidak perlu turun tangan mengurusi tetek-bengek ini, masa urusan tetek-bengek dapur harus diselesaikan oleh saya juga”. Kata tetek-bengek disini berarti semua hal, segala hal, seluruhnya. Padahal kata tetek-bengek kalau kita dekati, kita selusuri makna dasarnya tetek berarti susu atau payudara (binatang dan manusia). Sedang bengek berarti lembek, penyakit TBC (penyakit mengi; Bahasa Jawa). Sehingga tetek-bengek berarti susu atau payudara lembek, atau bisa juga susu atau payudara orang berpenyakit TBC.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana mungkin kemudian orang-orang yang terhormat, terpelajar masih memilih kata tetek-bengek, kosa kata yang vulgar berbau cabul ini ditempat umum. Padahal jelas makna asalnya sangat tidak senonoh. Apakah karena ketidaktahuan, ketidakpedulian, pelecehan, suka-suka saja, atau karena sebab lain. Padahal mungkin saja pencetusnya adalah preman pasar atau mungkin juga asalnya adalah sumpah serapah orang yang marah-marah. Lagi-lagi pertanyaannya mengapa kita mengikutinya dan menggunakan kata tetek-bengek dalam keseharian bahkan dalam acara formal. Mungkin ada kilah, kata majemuk memang seperti itu. Makna kata jadiannya selalu berubah dari makna dasarnya. Tapi kalau kita lihat untuk kata majemuk lain maknanya tidak sampai membawa-bawa organ tubuh yang tidak senonoh. Rumah sakit, terdiri dari kata rumah dan sakit. Sopan-sopan saja. Kamar mayat, terdiri dari kata kamar dan mayat, sopan tidak masalah. Tapi tetek-bengek, apa sopannya? Tetek kan organ tubuh yang tidak layak diperlihatkan dimuka umum. Walau mungkin ada sebagian warga disebagian suku tertentu tidak mempermasalahkan kebiasaan perempuan yang bertelanjang dada. Bahkan kata tetek diucapkannya juga saya yakin sebagian besar rakyat Indonesia akan berpaling  muka. Bahkan sebagian orang terutama perempuan memerah muka karena menahan malu ataupun alasan lainnya. Akhirnya nasib sebuah teori padat berisi penuh mutiara terlantarkan pada sebagian orang hanya karena kemasan bahasa yang menurutnya tidak berkenan.

Berikut beberapa responden yang dimintai komentarnya tentang kata tetek-bengek yang sebelumnya diberitahukan dulu makna dasarnya.

No
Nama
L/P
Usia
Komentar
Keterangan
1
Heri
L
9 thn
“Tidak sopan...!”
Siswa SD
kelas 3
2
Iwan
L
32 thn
“Kita ini korban pencetus kata tersebut, kata ini kadung sudah  ada tapi seharusnya orang terpelajar dan publik figur jangan menggunakannya”
Pegawai Foto Copy
3
Ayu
P
14 thn
“Tidak apa-apa.. tapi saya malu mendengarnya kalau ingat makna dasarnya. Saya sendiri tidak menggunakannya”.
Siswi SLTP
Kelas VIII
4
Aan
L
30 thn
“Tidak apa-apa, kita kan melihat makna jadiannya saja. Tidak perlu kita melihat kata majemuk dengan melihat makna dasarnya”
Guru SD
5
Nining
P
20 thn
“Pelecehan..!”
Penjahit
6
Kurbah
P
52 thn
“Pasti pencetusnya laki-laki, maksudnya sih bergurau tapi keterlaluan..”
Ibu Rumah Tangga

Tulisan ini  seperti hendak mendongkel batu sebesar rumah dengan sebatang lidi. Tulisan ini juga mungkin bagi para akademisi menganggapnya tidak ilmiah. Tapi seperti kata Aa Gym 3M; Mulailah dari hal kecil. Mulailah dari diri sendiri. Dan Mulailah saat ini juga.
Dan kepada para pengguna kata tetek-bengek, ketahuilah bahwa ketika menggunakannya maka ada beberapa orang yang memberi penilaian negatif terhadap anda. Mungkin penilaian yang sangat subjektif. Tapi apapun itu jelas ada beberapa audiens mulai meninggalkan anda.

READMORE